dr Andreas Prasadja, Spesialis Tukang Intip Orang Tidur
Dokter yang menjuluki dirinya sebagai ‘tukang intip orang tidur’ ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres saat diperiksa sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.
Pasien yang diperiksa pola tidurnya ini, tubuhnya dipasangi kabel-kabel lalu dr Ade akan memantaunya dari komputer. Dalam kondisi khusus tak jarang alat-alat yang dimiliknya (polisomnigrafi/PSG) di bawa ke rumah pasien.
Gangguan tidur menurut dr Ade adalah hal yang serius sayangnya banyak orang mengabaikannya. Gangguan tidur bisa membuat fungsi tubuh tidak maksimal, makanya ia prihatin melihat pejabat-pejabat yang tertidur saat bekerja.
Jika seorang pemimpin punya masalah tidur baik ngorok maupun ngantukan, maka sedikit banyak kesehatannya akan terpengaruh. Dampaknya antara lain konsentrasi menurun, kemampuan menganalisisi masalah berkurang dan area emosionalnya terganggu sehingga gampang tersinggung saat menerima kritik.
Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk juga memicu komplikasi yang lebih serius misalnya diabetes dan gangguan jantung sehingga biaya kesehatannya akan membengkak. Dalam waktu 2 tahun saja, biaya kesehatan seseorang bisa naik 10 kali lipat jika tidurnya tidak berkualitas.
“Saya pernah melakukan kampanye kecil-kecilan, pesannya jangan pernah memilih calon pemimpin yang ngorok,” tegas seorang praktisi kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja.
Sesuai bidang keahliannya, suami dari Kristanti Madona Gunadi ini memang getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Selain dengan menjadi pembicara dalam berbagai talkshow di TV dan radio, dr Ade juga gemar berbagi ilmu di internet termasuk melalui blog dan jejaring sosial.
Ayah dari 2 anak yang masing-masing berusia 2 dan 6 tahun ini tak pernah merasa terganggu meski akun twitternya sering dibanjiri pertanyaan seputar gangguan tidur. Hanya saja untuk memisahkan urusan pribadinya yang penuh canda dengan urusan keilmuannya yang lebih serius, belakangan dr Ade merasa perlu untuk memiliki 2 akun twitter.
“Dengan mem-follow @IDTidurSehat Anda dpt tahu mitos & fakta seputar tidur. Boleh juga unfollow akun ini agar saya bebas omong jorok. Hihihi,” tulis dr Ade di akun @prasadja yang merupakan akun pribadinya, sebagai imbauan agar pertanyaan seputar gangguan tidur disampaikan di akun barunya yakni @IDTidurSehat.
Dengan gaya humoris dan penuh canda, dr Ade terlihat ramah saat berinteraksi dengan siapapun termasuk pasien. Demikian juga di laboratorium tidur tempatnya bekerja, dr Ade ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.
Bahkan saat menyindir pola tidur wartawan yang umumnya sering bergadang hingga larut malam, ia mampu menyampaikannya dengan candaan menggelitik. Menurutnya, hal yang paling menyebalkan saat menghadapi pasien adalah jika pasien tersebut seorang pekerja media.
“Kalau pasien susah tidur, saya pasti bisa bantu. Kalau bisa tidur tapi tidak berkualitas, itu saya juga bisa bantu. Tapi kalau memang tidak sempat tidur, saya bisa apa coba?” ledeknya sambil tertawa kecil.
Komentar dr Ade tidak mengada-ada, sebab ia sendiri mengaku pernah menangani pasien yang bekerja sebagai pemred (pemimpin redaksi) sebuah media massa ternama dan merasakan sendiri tantangannya. Lucunya setelah sembuh, si pemred tersebut jadi sangat toleran dan tidak pernah marah jika ada anak buahnya yang tertidur di kantor dengan pertimbangan jika dipaksakan maka kinerjanya tidak akan optimal.
Di Indonesia, ilmu kedokteran yang mempelajari kesehatan tidur masih terbilang baru sehingga wajar jika ngorok dan gangguan tidur lainnya masih sering terabaikan. Kelak jika semua orang sudah mulai peduli terhadap kesehatan tidur, dr Ade berharap agar calon pemimpin bangsa juga diwajibkan lulus Tes Ngorok
And Share